082320916723 pwikoja@gmail.com

Sejarah PWI

PERSATUAN WARTAWAN INDONESIA selanjutnya dikenal dengan nama PWI adalah organisasi profesi wartawan pertama di Indonesia. PWI berdiri pada 9 Februari 1946 di Surakarta bertepatan dengam Hari Pers Nasional.

Berdirinya organisasi PWI menjadi awal perjuangan Indonesia dalam menentang kolonialisme di Indonesia melalui media dan tulisan. Setelah berdirinya PWI, organisasi serupa juga didirikan.

Organisasi tersebut adalah Serikat Penerbit Suratkabar atau SPS pada 8 Juni 1946. Serikat Penerbit Suratkabar mengganti namanya menjadi Serikat Perusahaan Pers pada 2011, bertepatan dengan hari jadi SPS yang ke-65. Kepentingan untuk mendirikan SPS pada waktu itu bertolak dari pemikiran bahwa barisan penerbit pers nasional perlu segera ditata dan dikelola, dalam segi idiil dan komersialnya, mengingat saat itu pers penjajah dan pers asing masih hidup dan tetap berusaha mempertahankan pengaruhnya. Karena jarak waktu pendiriannya yang berdekatan dan memiliki latar belakang sejarah yang serupa, PWI dan SPS diibaratkan sebagai “kembar siam” dalam dunia jurnalistik.

Sebelum didirikan, PWI membentuk sebuah panitia persiapan pada awal awal tahun 1946. Panitia persiapan tersebut dibentuk pada tanggal 9-10 Februari 1946 di balai pertemuan Sono Suko, Surakarta, saat diadakannya pertemuan antar wartawan Indonesia.

Pertemuan itu dihadiri oleh beragam wartawan, diantaranya adalah tokoh-tokoh pers yang sedang memimpin surat kabar, majalah, wartawan dan pejuang. Pertemuan tersebut menghasilkan dua keputusan, diantaranya adalah:

Disetujui membentuk organisasi wartawan Indonesia dengan nama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), yang diketuai oleh Mr. Sumanang Surjowinoto dengan sekretaris Sudarjo Tjokrosisworo.

Disetujui membentuk sebuah komisi beranggotakan:

  1. Sjamsuddin Sutan Makmur (Harian Rakyat Jakarta),
  2. M. Diah (Harian Merdeka, Jakarta).
  3. Abdul Rachmat Nasution (kantor berita Antara, Jakarta)
  4. Ronggodanukusumo (Suara Rakyat, Mojokerto)
  5. Mohammad Kurdie (Suara Merdeka, Tasikmalaya)
  6. Bambang Suprapto (Penghela Rakyat, Magelang)
  7. Sudjono (Surat Kabar Berjuang, Malang)
  8. Suprijo Djojosupadmo (Surat Kabar Kedaulatan Rakyat,Yogyakarta).

Delapan orang komisi yang telah dibentuk tersebut selanjutnya dibantu oleh Mr. Sumanang dan Sudarjo Tjokrosisworo, merumuskan hal-ihwal persuratkabaran nasional waktu itu dan usaha mengkoordinasinya ke dalam satu barisan pers nasional.Komisi beranggotakan 10 orang tersebut dinamakan juga “Panitia Usaha”.

Tiga minggu kemudian, Panitia Usaha mengadakan pertemuan kembali di Surakarta bertepatan dengan sidang Komite Nasional Indonesia Pusat yang berlangsung dari 28 Februari hingga Maret 1946.

Panitia Usaha mengadakan pertemuan dan membahas masalah pers yang dihadapi.Dari pertemuan itu lah kemudian disepakati didirikannya Serikat Perusahaan Suratkabar dalam rangka mengkoordinasikan persatuan pengusaha surat kabar yang pendirinya merupakan pendiri PWI.

PWI di Provinsi Jambi

Berdasarkan Jurnal Istoria berjudul “PWI DI KOTA JAMBI 1963-1974” ditulis oleh Rohmo Reiyanto Pinayungan (Alumni Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unbari)

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, di daerah-daerah di Indonesia mulai muncul pemikiran untuk mendirikan PWI dengan alasan meningkatnya jumlah wartawan seiring terbitnya surat kabar mingguan dan harian serta menjadi koresponden media daerah lain. Pada tahun 1950-an, beberapa wartawan di Jambi sudah ada yang menjadi anggota PWI, namun masih berorientasi atau berinduk ke PWI Cabang Sumatera Selatan.

Di Jambi saat itu telah terbentuk lembaga yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan diskusi para wartawan Jambi yangdikenal dengan Ikatan Wartawan Djambi (IWD). Anggota PWI saat itu adalah Roesmawi Raoef, AK Mahmud, Bustami Bey, Tarmizi Ilyas, M.Zen Alamsyah, H.Marpaung, Syamsul Watir, dan A Razak TR. Pembentukan Ikatan Wartawan Djambi (IWD) digalang oleh salah seorang wartawan Jambi yaitu AK Mahmud yang merupakan pencetus terbentuknya Persatuan Wartawan Indonesia Kota Jambi yang selanjutnya disebut PWI Kota Jambi.

Awal mula berdirinya, IWD (Ikatan Wartawan Djambi) tidak diterima dengan alasan sebagian besar pendirinya berada dibawah naungan PKI (Partai Komunis Indonesia) sehingga keberadaan IWD (Ikatan Wartawan Djambi) tidak berlangsung lama. Hal ini membuat beliau berpikir untuk membentuk PWI perwakilan Jambi (AK.Mahmud, wawancara: 2015). Terdapat beberapa versi yang menjelaskan tentang keberadaan dan pembentukan IWD ini. Versi pertama yaitu keberadaan IWD merupakan organisasi wartawan sebelum PWI Perwakilan Jambi terbentuk. Sebagai Ketua IWD yang pertama adalah Aminullah, seorang pimpinan Redaksi Mingguan Peristiwa yang juga merupakan anggota DPRD-GR dari utusan wartawan. Anggotanya adalah Raden Badaruddin yang juga merupakan anggota DPRD-GR dan dua anggota lainnya adalah Tarmizi Ilyas dan M. Zen Alamsyah, juga masuk ke dalam perkumpulan ini. Sementara Roesmawi Raoef, AK Mahmud, H. Marpaung, Bustami Bey, Syamsul Watir dan A. Razak TR, tetap berada di luar IWD. Mereka semua bekerja di surat kabar terbitan Jambi yaitu Peristiwa, Mingguan Berita, Warta Masyarakat, dan Massa Pers (Fakturrahman. 2014: 28). Versi lain mengatakan bahwa IWDJI sudah ada sejak tahun 1950-an yang diketuai oleh Roesmawi Raoef dengan sekretaris Bustami Bey dan bendahara H. Marpaung. IWDJI disebut-sebut sebagai cikal bakal PWI Jambi, setelah Roesmawi Raoef menerima mandat dari PWI Pusat untuk membentuk PWI Perwakilan Jambi.

Sementara itu, versi lainnya dikemukakan oleh tokoh pers Jambi yaitu AK Mahmud yang terlibat langsung dalam proses pembentukan PWI Perwakilan Jambi. Beliau mengatakan bahwa mengingat pentingnya keberadaan organisasi yang permanen, maka pada tahun 1962, para anggota PWI di Jambi berniat membentuk PWI Perwakilan Jambi. Rencana itu disambut baik oleh Gubernur Jambi yaitu M.Jusuf Singedekane, dan Ketua DPRD Provinsi Jambi yaitu M. Saleh Yasin.

Pada tahun 1962, berlangsung Kongres PWI di Jakarta. Dalam Kongres ini, AK Mahmud yang menjadi perwakilan dari Kota Jambi, dengan pertimbangannya yaitu bahwa Jambi sudah berstatus sebagai provinsi saat itu sehingga perkembangan persnya pun harus seperti provinsi lain, mengajukan agar dibentuknya PWI perwakilan Jambi (AK. Mahmud, wawancara: 2015). Namun, syarat untuk membentuk PWI perwakilan mengharuskan ada 5 orang anggota biasa dan 3 orang anggota muda. Sementara di Jambi baru ada 4 orang anggota biasa. Selanjutnya, setelah H. Marpaung, Bustami Bey, Syamsul Watir, dan A. Razak TR naik tingkat menjadi anggota biasa, maka pada tahun itu juga PWI Pusat memerintahkan anggota PWI Jambi segera menyusun persiapan pembentukan PWI Perwakilan Jambi. Melalui musyawarah dan mufakat, terbentuklah panitia persiapan pembentukan PWI Perwakilan Jambi yang terdiri dari Roesmawi Raoef yang menjabat sebagai ketua, AK Mahmud yang menjabat sebagai wakil ketua, Bustami Bey sebagai sekretaris, dan Tarmizi Ilyas sebagai bendahara. Selanjutnya, pada tanggal 2 Oktober 1963, dengan dihadiri dua orang pengurus PWI Pusat, yaitu Ice Syamsuddin dan Ani Berta Simamora, diadakan acara peresmian pembentukan PWI Perwakilan Jambi di Gedung Nasional sekarang Gedung BKOW Provinsi Jambi (Tim PWI Jambi, 2012).

PWI di Kota Jambi

PWI Kota Jambi karena berada di Ibukota Provinsi sesuai PD/PART, maka tidak dapat dibentuk secara Mandiri, namun hanya berbentuk Kelompok Kerja (Pokja).

PWI Kota Jambi (Pokja) dibentuk untuk dapat menjadi perpanjangan PWI Provinsi dalam mewadahi semakin bertumbuh dan berkembangannya dunia media di Bumi Sepucuk Jambi sembilan lurah, terkhusus dalam Kota Jambi. Sehingga lahirlah di masa kepemimpinan Alm.Saman ST, pada tahun 2017 dengan ketua: Renold Isra Putra, Sekretaris: Musdalifah, Bendahara: Hendry Nursal. Dalam perkembangan karena adanya perpindahan domisili sekretaris masa itu, maka ditunjuklah sekretaris pengganti yaitu Melani Kadar.

Berjalannya waktu, diakhir periode pada 2019 PWI kota Jambi belum mengalami perubahan dan perombakan pengurus karena terjadinya masa transisi kepemimpinan di PWI Provinsi Jambi dari Alm Saman, ke H Raden Ridwan Agus Depati.

Lantas tepatnya 1 Juni 2020, kepengurusan Periode 2017-2019 melakukan pertemuan untuk musyawarah mufakat mengajukan kepada PWI provinsi agar kembali menerbitkan surat keputusan (SK) untuk PWI Kota Jambi periode 2020-2022. PWI Provinsi menyetujui hasil musyawarah tersebut dan terbit SK pada tanggal 8 Juni 2020, dengan Ketua: Hendry Nursal, Sekretaris: M Hafizh Alatan, Bedahara: Surya Elviza